Berita UKM
Registrasi Profil Terbaru
Bisnis UKM
‹
›
Profil UKM
Berita UKM
Profil UKM
Inspirasi Usaha
Videos
Dulu, menjadi pengusaha tak pernah sekalipun terlintas di benak Liche Lidiawati. Selepas SMA, dia memilih kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Namun, siapa sangka, kini Liche muncul sebagai pengusaha kue kering yang sukses mengantongi omzet miliaran rupiah saban tahun.
Bakat memasak sudah terlihat pada diri Liche sejak duduk di bangku SMA. Memiliki ibu yang hobi memasak, secara tak sengaja, menumbuhkan kecintaan Liche pada dunia masak-memasak. Lantas, sejak punya anak, Liche makin sering terjun di dapur, terutama untuk membuat kue kering.
“Awalnya saya hanya mengkreasikan makanan yang disukai anak-anak menjadi kue kering, seperti sereal coco crunch,” kisah perempuan yang 30 tahun menjadi dokter gigi di Pertamina ini.
Liche pun mengisahkan, dulu kue kering dibuat berdasarkan resep milik sang ibu. Ia sama sekali tak pernah ikut les membuat kue karena menurutnya resep dari ibunya sudah cukup.
Ternyata, penggemar kue kering bikinan Liche tak terbatas pada ketiga orang putranya. Banyak teman kantornya juga menyukai kue buatan Liche. Lantas, sejak 1996, Liche mulai menjual kue kering secara terbatas dengan harga Rp 5.000 per stoples.
Setiap hari sepulang kerja, mulai pukul 18.00 hingga 01.00, Liche membuat kue pesanan teman-temannya. Ketika pesanan bertambah banyak, dia melibatkan tiga asisten rumah tangganya.
Lantaran rasa yang enak dan gurih, kue kering buatan Liche semakin laku. Order kue kering pun membeludak. Padahal ia mengaku tidak pernah menawarkan kue kering kepada orang-orang. Justru, konsumen yang rajin untuk merekomendasikan kue Liche kepada orang-orang.
Ketika krisis moneter melambungkan harga bahan baku kue, Liche sempat berpikir untuk mengerem laju usahanya dan mengurangi produksi. Akan tetapi, di luar dugaan, banyak konsumen yang justru mencari kue kering buatannya untuk Lebaran, meski harganya naik. Dari situlah, Liche menyadari tingginya kebutuhan kue kering pada saat Hari Raya.
Tak mau melewatkan kesempatan, Liche menambah karyawannya menjadi 10 orang. Dia juga membeli rumah persis di samping rumahnya untuk memperluas tempat produksi.
Tahun 2000-an, Liche mulai menerapkan sistem keagenan. “Pesanan selalu banyak. Akan tetapi, karena ini bisnis hobi, saya tidak terlalu memusingkan manajemen,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 29 April 1955, ini. Saat itu, agen kue Liche hanyalah orang-orang yang ia kenal di tempat kerja.
Makin serius menekuni bisnisnya, Liche pun terus menambah varian kue kering. Beragam bahan baku, seperti buah-buahan, kacang hijau, dan cokelat, ia racik menjadi varian baru kue kering. Liche mengatakan, kakak iparnya, yang juga pembuat kue, kerap memberi masukan untuk resep dan ide kue baru.
Semakin besar bisnis, jumlah karyawan Liche terus bertambah, begitu juga dengan kapasitas produksinya. Pada 2002, dia mendirikan pabrik seluas 600 meter persegi untuk menampung sekitar 80 karyawan. Tak tanggung-tanggung, Liche membenamkan investasi hingga Rp 1 miliar, di antaranya untuk membeli tiga oven.
Manajemen rapi
Setelah delapan tahun bergelut dalam usaha kue kering, barulah Liche membubuhi merek kue buatannya. Ia memilih Yorya yang merupakan singkatan dari nama ketiga anaknya, Adya Kemara, Ryan Narendra, dan Yodha Prasta Pradana. Pada 2009, nama itu baru dipatenkan sebagai merek usaha.
Liche mengakui, usaha kue kering merupakan usaha musiman karena orang tidak membeli kue jenis ini setiap hari. Puncak penjualan baru tiba saat Lebaran dan Natal. Namun, Liche meyakini, kue kering pasti jadi kebutuhan selama Hari Raya. “Orang yang tidak punya uang pun bela-belain membeli kue kering,” tuturnya. Terbukti, pesanan kue kering Yorya selalu naik sekitar 15 persen setiap tahun.
Untuk itu, pada bulan-bulan biasa, Liche hanya bisa menjual 50 lusin stoples kue kering. Akan tetapi, saat Lebaran tiba, pesanan melonjak hingga 9.000 lusin kue selama sebulan. Kemudian, pada saat Natal, pesanan kue sekitar 2.000 lusin.
Untuk menyambut Lebaran mendatang, misalnya, Liche mulai memproduksi kue pada akhir Februari. Ia menargetkan penjualan kue kering Yorya mencapai 11.000 lusin. Dari usaha ini, Liche bisa mendapat omzet sekitar Rp 4 miliar saban tahun.
Namun, kini Liche tak sendirian. Selama empat tahun terakhir, anak keduanya, Ryan, membantunya dalam bidang pemasaran. Meskipun masih menempuh studi di Australia, sang anak membuatkan website Yorya Cookies. Ryan jugalah yang mengubah sistem keagenan Yorya.
Saat ini, jika ada orang yang tertarik menjadi agen Yorya, maka mereka bisa memilih dari tiga paket keagenan yang tersedia, yaitu Silver, Gold, dan Platinum. Sebelumnya, jika ingin jadi agen kue Yorya, Liche tidak mengajukan syarat-syarat tertentu.
Sejak ada situs tersebut, agen kue Yorya meluas dari Aceh hingga Papua. Jumlahnya saat ini sekitar 200 agen. Harga jual kue Yorya untuk agen adalah Rp 47.500–Rp 52.500 per stoples. Adapun harga jual untuk ritel seharga Rp 70.000–Rp 75.000 per stoples.
Liche menambahkan, sekarang persaingan usaha kue kering sangat ketat jika dibandingkan saat ia merintis Yorya. Kondisi ini menantangnya untuk terus berkreasi dengan model-model baru. Sejauh ini, setidaknya 100 varian kue sudah tercipta dari tangan dinginnya.
Namun, kompetisi ini juga membuatnya rela menurunkan margin keuntungan. Kalau dulu, Liche bisa meraup margin laba hingga 125 persen. Sekarang, dari usaha kue kering, Liche mendapat margin keuntungan sekitar 40 persen. “Margin berkurang tidak apa-apa karena sekarang pasar kue kering sudah sangat luas,” kata dia.
Sumber & Gambar: bisniskeuangan.kompas.com
Bakat memasak sudah terlihat pada diri Liche sejak duduk di bangku SMA. Memiliki ibu yang hobi memasak, secara tak sengaja, menumbuhkan kecintaan Liche pada dunia masak-memasak. Lantas, sejak punya anak, Liche makin sering terjun di dapur, terutama untuk membuat kue kering.
“Awalnya saya hanya mengkreasikan makanan yang disukai anak-anak menjadi kue kering, seperti sereal coco crunch,” kisah perempuan yang 30 tahun menjadi dokter gigi di Pertamina ini.
Liche pun mengisahkan, dulu kue kering dibuat berdasarkan resep milik sang ibu. Ia sama sekali tak pernah ikut les membuat kue karena menurutnya resep dari ibunya sudah cukup.
Ternyata, penggemar kue kering bikinan Liche tak terbatas pada ketiga orang putranya. Banyak teman kantornya juga menyukai kue buatan Liche. Lantas, sejak 1996, Liche mulai menjual kue kering secara terbatas dengan harga Rp 5.000 per stoples.
Setiap hari sepulang kerja, mulai pukul 18.00 hingga 01.00, Liche membuat kue pesanan teman-temannya. Ketika pesanan bertambah banyak, dia melibatkan tiga asisten rumah tangganya.
Lantaran rasa yang enak dan gurih, kue kering buatan Liche semakin laku. Order kue kering pun membeludak. Padahal ia mengaku tidak pernah menawarkan kue kering kepada orang-orang. Justru, konsumen yang rajin untuk merekomendasikan kue Liche kepada orang-orang.
Ketika krisis moneter melambungkan harga bahan baku kue, Liche sempat berpikir untuk mengerem laju usahanya dan mengurangi produksi. Akan tetapi, di luar dugaan, banyak konsumen yang justru mencari kue kering buatannya untuk Lebaran, meski harganya naik. Dari situlah, Liche menyadari tingginya kebutuhan kue kering pada saat Hari Raya.
Tak mau melewatkan kesempatan, Liche menambah karyawannya menjadi 10 orang. Dia juga membeli rumah persis di samping rumahnya untuk memperluas tempat produksi.
Tahun 2000-an, Liche mulai menerapkan sistem keagenan. “Pesanan selalu banyak. Akan tetapi, karena ini bisnis hobi, saya tidak terlalu memusingkan manajemen,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 29 April 1955, ini. Saat itu, agen kue Liche hanyalah orang-orang yang ia kenal di tempat kerja.
Makin serius menekuni bisnisnya, Liche pun terus menambah varian kue kering. Beragam bahan baku, seperti buah-buahan, kacang hijau, dan cokelat, ia racik menjadi varian baru kue kering. Liche mengatakan, kakak iparnya, yang juga pembuat kue, kerap memberi masukan untuk resep dan ide kue baru.
Semakin besar bisnis, jumlah karyawan Liche terus bertambah, begitu juga dengan kapasitas produksinya. Pada 2002, dia mendirikan pabrik seluas 600 meter persegi untuk menampung sekitar 80 karyawan. Tak tanggung-tanggung, Liche membenamkan investasi hingga Rp 1 miliar, di antaranya untuk membeli tiga oven.
Manajemen rapi
Setelah delapan tahun bergelut dalam usaha kue kering, barulah Liche membubuhi merek kue buatannya. Ia memilih Yorya yang merupakan singkatan dari nama ketiga anaknya, Adya Kemara, Ryan Narendra, dan Yodha Prasta Pradana. Pada 2009, nama itu baru dipatenkan sebagai merek usaha.
Liche mengakui, usaha kue kering merupakan usaha musiman karena orang tidak membeli kue jenis ini setiap hari. Puncak penjualan baru tiba saat Lebaran dan Natal. Namun, Liche meyakini, kue kering pasti jadi kebutuhan selama Hari Raya. “Orang yang tidak punya uang pun bela-belain membeli kue kering,” tuturnya. Terbukti, pesanan kue kering Yorya selalu naik sekitar 15 persen setiap tahun.
Untuk itu, pada bulan-bulan biasa, Liche hanya bisa menjual 50 lusin stoples kue kering. Akan tetapi, saat Lebaran tiba, pesanan melonjak hingga 9.000 lusin kue selama sebulan. Kemudian, pada saat Natal, pesanan kue sekitar 2.000 lusin.
Untuk menyambut Lebaran mendatang, misalnya, Liche mulai memproduksi kue pada akhir Februari. Ia menargetkan penjualan kue kering Yorya mencapai 11.000 lusin. Dari usaha ini, Liche bisa mendapat omzet sekitar Rp 4 miliar saban tahun.
Namun, kini Liche tak sendirian. Selama empat tahun terakhir, anak keduanya, Ryan, membantunya dalam bidang pemasaran. Meskipun masih menempuh studi di Australia, sang anak membuatkan website Yorya Cookies. Ryan jugalah yang mengubah sistem keagenan Yorya.
Saat ini, jika ada orang yang tertarik menjadi agen Yorya, maka mereka bisa memilih dari tiga paket keagenan yang tersedia, yaitu Silver, Gold, dan Platinum. Sebelumnya, jika ingin jadi agen kue Yorya, Liche tidak mengajukan syarat-syarat tertentu.
Sejak ada situs tersebut, agen kue Yorya meluas dari Aceh hingga Papua. Jumlahnya saat ini sekitar 200 agen. Harga jual kue Yorya untuk agen adalah Rp 47.500–Rp 52.500 per stoples. Adapun harga jual untuk ritel seharga Rp 70.000–Rp 75.000 per stoples.
Liche menambahkan, sekarang persaingan usaha kue kering sangat ketat jika dibandingkan saat ia merintis Yorya. Kondisi ini menantangnya untuk terus berkreasi dengan model-model baru. Sejauh ini, setidaknya 100 varian kue sudah tercipta dari tangan dinginnya.
Namun, kompetisi ini juga membuatnya rela menurunkan margin keuntungan. Kalau dulu, Liche bisa meraup margin laba hingga 125 persen. Sekarang, dari usaha kue kering, Liche mendapat margin keuntungan sekitar 40 persen. “Margin berkurang tidak apa-apa karena sekarang pasar kue kering sudah sangat luas,” kata dia.
Sumber & Gambar: bisniskeuangan.kompas.com
Berita UKM - Bisnis UKM - Inspirasi Usaha
Hannifa Fitria adalah nama pengusaha muda yang sukses dengan bisnis modal kecil. Bisnis berawal dari ide teman kuliahnya yang sempat tertunda untuk dieksekusi menjadi sebuah bisnis yang nyata, sehingga baru bisa direalisasikan menjadi sebuah bisnis nyata setelah beberapa tahun setelah Hannifa menyelesaikan kuliahnya. Ide tersebut bukanlah ide yang wah, idenya cukuplah sederhana dengan keinginannya untuk mengangkat tema Nusantara pada semua produk yang dihasilkan.
Berawal dari sebuah obrolan santai dengan salah seorang teman semasa kuliahnya mengenai ketertarikannya dengan kekayaan seni yang ada di Indonesia, mulai dari motif hingga cara pembuatan benda-benda tradisional. Kemudian hal tersebut menjurus pada sebuah ide yang tujuannya untuk mengekplorasi dalam hal ini “kenusantaraan” menjadi suatu produk yang kasual dan masa kini sehingga memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
Karena kesibukannya selama duduk dibangku kuliah, seperti layaknya mahasiswa yang lain yaitu sibuk pada urusan organisasi kampus ataupun sibuk dengan aktifitas kuliahnya, akhirnya ide pun tertunda dan sempat terbengkalai. Hingga pada akhirnya setelah beberapa tahun setelah selesai kuliah, akhirnya mereka bertemu kembali dan baru sempat untuk merealisasikan ide yang telah ada sebelumnya itu. Hannifa bersama temannya mampu memulai bisnis hanya dengan modal nekat. Betapa tidak, Hannifa memulai bisnis hanya dengan modal usaha yang nyaris Rp 0,-.
Bisnis yang berhasil dijalankan oleh Hannifa memang tampak sederhana, produk yang dihasilkan berupa merchandise kaos murah, tas dan boneka dengan brand “Kiwari”. Yang membedakan produk ini dengan produk lain di pasaran adalah keberhasilan Hannifa dalam mengangkat ide kenusantaraan kedalam produk-produk yang dihasilkannya. Dan hal itulah yang pada akhirnya menjadikan kekuatan dari bisnis milik Hannifa yaitu “Kiwari”. Khusus untuk produk boneka, gerakan Hannifa sudah terbilang berani karena selama ini boneka-boneka yang beredar di Indonesia adalah produk impor.
Memulai bisnis dengan modal kecil yang nyaris Rp 0,- membuat Hannifa harus berpikir lebih keras dan kreatif dalam mencari cara agar bisnis yang dijalankan dapat terus eksis. Dengan modal kecil yang hampir nol rupiah mereka tetap memberanikan diri dengan mulai mencari klien yaitu dengan tim produksi penjahit kaos murah yang berasal dari daerah industri di kota Bandung yang pada saat itu hampir bangkrut atau gulung tikar.
Dengan sumber daya yang terbatas, awalnya Hannifa belum mampu untuk menghasilkan produk merchandise dengan value nusantara, karena pada prinsipnya bisnis yang dijalankan biarlah jalan terlebih dahulu saja, apapun resikonya. Namun dengan kerja keras dan keuletan akhirnya mereka bisa berhasil mewujudkan idenya pada waktu masih kuliah, yaitu merealisasikan kenusantaraan kedalam produk-produknya.
Tahun 2013 merupakan tahun kedua dimana perusahaan mereka berdiri dan merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa bagi hannifa dan rekannya. Saat ini mereka sudah memiliki mitra dengan 3 vendor yang menjading kurang lebih 15 orang tenaga kerja yaitu penjahit kaos murah atau tempat bikin kaos, penjahit boneka dan tas.
Bisnis kami juga sudah mendapat kepercayaan dari sebuah badan baitul maal, yaitu sebuah investasi untuk membantu meningkatkan produktivitas kami yang juga untuk merealisasikan konsep produk bernilai nusantara sesuai dengan mimpi sebelumnya. Dan yang paling terpenting dan kami syukuri dalam hal ini adalah kepercayaan dari para klien, sehingga membuka peluang bisnis pada kerja sama yang lebih besar lagi.
Semoga kisah sukses Hannifa Fitria dengan bisnis modal kecil yang dijalankannya bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang ingin terjun ke dunia bisnis namun masih bingung dengan minimnya modal usaha yang dimiliki. Salam sukses!
Sumber: bisnisukm.com
Sumber Gambar:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLRNmhV5IsxKxz3O8zr3zEJSpPy3QP1CECFtzGcpya5SAkEpTXhrrDKRFkYcn0p0rLy3Fd2EDe4f0vWKUhDmhIMCE9xMH4d0GJuYHiscf2EgZo7HtI8WskrHW8pr9MdVDc23kL0iRNcVsa/s1600/IMG_5346-15-a.jpg
Berawal dari sebuah obrolan santai dengan salah seorang teman semasa kuliahnya mengenai ketertarikannya dengan kekayaan seni yang ada di Indonesia, mulai dari motif hingga cara pembuatan benda-benda tradisional. Kemudian hal tersebut menjurus pada sebuah ide yang tujuannya untuk mengekplorasi dalam hal ini “kenusantaraan” menjadi suatu produk yang kasual dan masa kini sehingga memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
Karena kesibukannya selama duduk dibangku kuliah, seperti layaknya mahasiswa yang lain yaitu sibuk pada urusan organisasi kampus ataupun sibuk dengan aktifitas kuliahnya, akhirnya ide pun tertunda dan sempat terbengkalai. Hingga pada akhirnya setelah beberapa tahun setelah selesai kuliah, akhirnya mereka bertemu kembali dan baru sempat untuk merealisasikan ide yang telah ada sebelumnya itu. Hannifa bersama temannya mampu memulai bisnis hanya dengan modal nekat. Betapa tidak, Hannifa memulai bisnis hanya dengan modal usaha yang nyaris Rp 0,-.
Bisnis yang berhasil dijalankan oleh Hannifa memang tampak sederhana, produk yang dihasilkan berupa merchandise kaos murah, tas dan boneka dengan brand “Kiwari”. Yang membedakan produk ini dengan produk lain di pasaran adalah keberhasilan Hannifa dalam mengangkat ide kenusantaraan kedalam produk-produk yang dihasilkannya. Dan hal itulah yang pada akhirnya menjadikan kekuatan dari bisnis milik Hannifa yaitu “Kiwari”. Khusus untuk produk boneka, gerakan Hannifa sudah terbilang berani karena selama ini boneka-boneka yang beredar di Indonesia adalah produk impor.
Memulai bisnis dengan modal kecil yang nyaris Rp 0,- membuat Hannifa harus berpikir lebih keras dan kreatif dalam mencari cara agar bisnis yang dijalankan dapat terus eksis. Dengan modal kecil yang hampir nol rupiah mereka tetap memberanikan diri dengan mulai mencari klien yaitu dengan tim produksi penjahit kaos murah yang berasal dari daerah industri di kota Bandung yang pada saat itu hampir bangkrut atau gulung tikar.
Dengan sumber daya yang terbatas, awalnya Hannifa belum mampu untuk menghasilkan produk merchandise dengan value nusantara, karena pada prinsipnya bisnis yang dijalankan biarlah jalan terlebih dahulu saja, apapun resikonya. Namun dengan kerja keras dan keuletan akhirnya mereka bisa berhasil mewujudkan idenya pada waktu masih kuliah, yaitu merealisasikan kenusantaraan kedalam produk-produknya.
Tahun 2013 merupakan tahun kedua dimana perusahaan mereka berdiri dan merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa bagi hannifa dan rekannya. Saat ini mereka sudah memiliki mitra dengan 3 vendor yang menjading kurang lebih 15 orang tenaga kerja yaitu penjahit kaos murah atau tempat bikin kaos, penjahit boneka dan tas.
Bisnis kami juga sudah mendapat kepercayaan dari sebuah badan baitul maal, yaitu sebuah investasi untuk membantu meningkatkan produktivitas kami yang juga untuk merealisasikan konsep produk bernilai nusantara sesuai dengan mimpi sebelumnya. Dan yang paling terpenting dan kami syukuri dalam hal ini adalah kepercayaan dari para klien, sehingga membuka peluang bisnis pada kerja sama yang lebih besar lagi.
Semoga kisah sukses Hannifa Fitria dengan bisnis modal kecil yang dijalankannya bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang ingin terjun ke dunia bisnis namun masih bingung dengan minimnya modal usaha yang dimiliki. Salam sukses!
Sumber: bisnisukm.com
Sumber Gambar:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLRNmhV5IsxKxz3O8zr3zEJSpPy3QP1CECFtzGcpya5SAkEpTXhrrDKRFkYcn0p0rLy3Fd2EDe4f0vWKUhDmhIMCE9xMH4d0GJuYHiscf2EgZo7HtI8WskrHW8pr9MdVDc23kL0iRNcVsa/s1600/IMG_5346-15-a.jpg
Bisnis UKM - Inspirasi Usaha
Bagi Rahmi Salviviani, memiliki jejaring atau komunitas pertemanan sesama pebisnis adalah wadah untuk berkumpul, belajar dan mengajarkan tentang “ilmu ikhlas”. Giving without expect to take dalam artian yang sebenarnya. Mungkin ada yang beranggapan bahwa mana mungkin hidup hanya memberi tanpa meminta? Silakan saja, setiap orang bebas berpendapat dan berbuat, namun tak bisa bebas dalam menerima efeknya. Mungkin juga ada yang beranggapan bahwa terlalu naif jika dimasa sekarang hidup ikhlas dan hanya berharap pada balasan Tuhan.
Orang yang berpikiran dan berbuat kecil hanya akan mendapatkan balasan yang kecil juga, itu hukum alamnya. Ikhlas berbagi bukanlah perkara yang kecil, karena bagi Rahmi, itulah tujuan penciptaan manusia sesungguhnya.
“Bisnis jalan dan berkembang, ownernya hidup seimbang, tetap berbagi tanpa takut miskin. Saya pikir ini adalah bentuk lengkap dari kebahagian dunia yang mudah-mudahan menjadi bekal kebaikan kehidupan kekal di akhirat kelak,” harapnya.
Energi positif dari pemikiran atau mindset yang memang dibangun saat dalam berkomunitas bisnis di TDA yang ia ikuti, berpengaruh hebat dalam kehidupan bisnis, keluarga dan spiritual. Kesempatan lainnya adalah bahwa ia diberikan tempat untuk berbagi, tak peduli sekecil apapun peran itu. Berbagi tanpa menunggu berada di puncak sukses menurut Rahmi adalah bekal untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh siapapun.
Rahmi juga menyatakan bahwa dirinya termasuk ‘berani’ dalam bisnis. Komunitasnya menjadi rem bagi dirinya agar bisa menjadi pemberani dan pintar, tak hanya sekadar nekat. Banyak yang bisa memulai bisnis namun tak banyak yang dapat mempertahankannya, salah satu penyebabnya karena kurangnya kontrol diri.
Rahmi berbisnis dibidang pendidikan sejak 2008. Pendidikan Taman Kanak-kanak pun dipilihnya. Ia meyakini bahwa apapun yang sedang Allah amanahkan bukanlah hal yang sia-sia. “Tidak penting bisnisnya apa, tapi seberapa bertanggungjawabnya kita dalam menjalankan kepercayaan Allah itu,” katanya optimis.
Diawal berbisnis Rahmi masih meggunakan merek orang lain. Belajar dari kekurangan dan kelebihan yang ada, dua tahun belakangan Rahmi memberanikan diri menggunakan brand sendiri yakni TK Alifa Kids, yang saat ini telah memiliki sembilan cabang di dua kota, Pekanbaru dan Palembang. Beberapa cabang adalah hasil kerjasama dengan investor. “Sudah lebih dari 20 orang yang ingin mewaralabakan TK ini, namun dengan berat hati kami harus menolak, karena menurut kami brand ini belum teruji, setidaknya belum sampai lima tahun dan sistem bisnis ini masih terus dalam perbaikan,” jelas Rahmi.
Rahmi mengkisahkan bahwa tadinya ia hanya seorang ibu rumahtangga biasa yang pernah bekerja namun memutuskan berhenti karena sudah memiliki anak. Dalam perjalanan, perempuan yang aktif ini ternyata tidak nyaman jika hanya berdiam diri. Ia pun bertekat untuk bisa menjadi solusi bagi suami, dan bukan ‘beban’. “Ternyata Allah SWT menggiring ke arah bisnis pendidikan ini. Apa yang menjadi tujuan saya terpenuhi, berbisnis namun tetap dapat mengurusi keluarga.”
Meskipun Rahmi dan suami tidak memiliki latar belakang pendidikan TK, mereka mempercayakan kepada ‘ahli’nya, yakni guru-guru TK yang bergabung dengan tim kecilnya. Dengan kontrol dan kepercayaan tim ini berkembang menjadi hampir 60 orang. “Saya meyakini apapun yang Allah titipkan sekarang ada maksudnya.”
Hampir semua bisnis memiliki nilai sosial sebagai syarat agar tetap bisa bertahan. Bisnis yang hanya memikirkan aspek keuntungan semata akan segera ditinggalkan tim, bahkan konsumennya. Berbisnis pendidikan baginya sangat menentramkan hati sekaligus menjadi tantangan tersendiri karena tugas utamanya adalah ‘mengelola manusia’. Diperlukan kemampuan memimpin yang sesuai dengan tim.
“Namun tidak ada yang tidak mungkin, para guru-guru TK kami ajak untuk berpikir besar. Beberapa dari mereka menjadi mandiri dengan memulai usaha sendiri. Bagi saya ini sebuah prestasi. Sebagian besar berhasil menjadi leader di cabang mereka masing-masing,” katanya.
Sumber : Buku Keajaiban Tangan Di Atas, Karya : @roniyuzirman dan @iimrusyamsi
Sumber photo : alifakids.blogspot.com
Orang yang berpikiran dan berbuat kecil hanya akan mendapatkan balasan yang kecil juga, itu hukum alamnya. Ikhlas berbagi bukanlah perkara yang kecil, karena bagi Rahmi, itulah tujuan penciptaan manusia sesungguhnya.
“Bisnis jalan dan berkembang, ownernya hidup seimbang, tetap berbagi tanpa takut miskin. Saya pikir ini adalah bentuk lengkap dari kebahagian dunia yang mudah-mudahan menjadi bekal kebaikan kehidupan kekal di akhirat kelak,” harapnya.
Energi positif dari pemikiran atau mindset yang memang dibangun saat dalam berkomunitas bisnis di TDA yang ia ikuti, berpengaruh hebat dalam kehidupan bisnis, keluarga dan spiritual. Kesempatan lainnya adalah bahwa ia diberikan tempat untuk berbagi, tak peduli sekecil apapun peran itu. Berbagi tanpa menunggu berada di puncak sukses menurut Rahmi adalah bekal untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh siapapun.
Rahmi juga menyatakan bahwa dirinya termasuk ‘berani’ dalam bisnis. Komunitasnya menjadi rem bagi dirinya agar bisa menjadi pemberani dan pintar, tak hanya sekadar nekat. Banyak yang bisa memulai bisnis namun tak banyak yang dapat mempertahankannya, salah satu penyebabnya karena kurangnya kontrol diri.
Rahmi berbisnis dibidang pendidikan sejak 2008. Pendidikan Taman Kanak-kanak pun dipilihnya. Ia meyakini bahwa apapun yang sedang Allah amanahkan bukanlah hal yang sia-sia. “Tidak penting bisnisnya apa, tapi seberapa bertanggungjawabnya kita dalam menjalankan kepercayaan Allah itu,” katanya optimis.
Diawal berbisnis Rahmi masih meggunakan merek orang lain. Belajar dari kekurangan dan kelebihan yang ada, dua tahun belakangan Rahmi memberanikan diri menggunakan brand sendiri yakni TK Alifa Kids, yang saat ini telah memiliki sembilan cabang di dua kota, Pekanbaru dan Palembang. Beberapa cabang adalah hasil kerjasama dengan investor. “Sudah lebih dari 20 orang yang ingin mewaralabakan TK ini, namun dengan berat hati kami harus menolak, karena menurut kami brand ini belum teruji, setidaknya belum sampai lima tahun dan sistem bisnis ini masih terus dalam perbaikan,” jelas Rahmi.
Rahmi mengkisahkan bahwa tadinya ia hanya seorang ibu rumahtangga biasa yang pernah bekerja namun memutuskan berhenti karena sudah memiliki anak. Dalam perjalanan, perempuan yang aktif ini ternyata tidak nyaman jika hanya berdiam diri. Ia pun bertekat untuk bisa menjadi solusi bagi suami, dan bukan ‘beban’. “Ternyata Allah SWT menggiring ke arah bisnis pendidikan ini. Apa yang menjadi tujuan saya terpenuhi, berbisnis namun tetap dapat mengurusi keluarga.”
Meskipun Rahmi dan suami tidak memiliki latar belakang pendidikan TK, mereka mempercayakan kepada ‘ahli’nya, yakni guru-guru TK yang bergabung dengan tim kecilnya. Dengan kontrol dan kepercayaan tim ini berkembang menjadi hampir 60 orang. “Saya meyakini apapun yang Allah titipkan sekarang ada maksudnya.”
Hampir semua bisnis memiliki nilai sosial sebagai syarat agar tetap bisa bertahan. Bisnis yang hanya memikirkan aspek keuntungan semata akan segera ditinggalkan tim, bahkan konsumennya. Berbisnis pendidikan baginya sangat menentramkan hati sekaligus menjadi tantangan tersendiri karena tugas utamanya adalah ‘mengelola manusia’. Diperlukan kemampuan memimpin yang sesuai dengan tim.
“Namun tidak ada yang tidak mungkin, para guru-guru TK kami ajak untuk berpikir besar. Beberapa dari mereka menjadi mandiri dengan memulai usaha sendiri. Bagi saya ini sebuah prestasi. Sebagian besar berhasil menjadi leader di cabang mereka masing-masing,” katanya.
Sumber : Buku Keajaiban Tangan Di Atas, Karya : @roniyuzirman dan @iimrusyamsi
Sumber photo : alifakids.blogspot.com
Berita UKM - Inspirasi Usaha
Dunia medis Indonesia boleh berbangga hati atas sepak terjang Gamal Albinsaid. Pasalnya, dokter muda yang satu ini berhasil meraih penghargaan dari Kerajaan Inggris karena program yang diluncurkannya.
Di awal tahun, pada 31 Januari 2014, Gamal meraih penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneurship First Winner 2014. Penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Unilever dan Cambridge University ini merupakan kehormatan dan Pangeran Charles kepada entrepreneur muda yang peduli pada sumber daya yang berkelanjutan.
“Alhamdulillah, saya mampu meraih penghargaan tersebut berkat kontribusi besar masyarakat dan juga tim saya selama ini. saat itu, saya mendirikan sebuah klinik yang sistem pembayarannya menggunakan asuransi dengan premi sampah,” katanya seperti dikutip dari Studentpreuneur, Kamis (11/12/2014).
Artinya, setiap masyarakat yang ingin berobat ke klinik namun tak memiliki uang dapat menggantinya dengan mengumpulkan sampah. Sampah yang dibawa ke klinik memiliki nilai Rp 10.000 yang dapat digunakan untuk berobat.
Program penghargaan internasional tersebut digelar untuk menginspirasi pemuda di seluruh dunia agar dapat menyelesaikan isu lingkungan, sosial dan kesehatan. Penghargaan ini juga mengundang wirausaha yang berusia 30 tahun ke bawah untuk memberikan solusi yang menginspirasi, praktis dan jelas untuk membantu mewujudkan sustainability living.”Program saya terpilih menjadi yang terbaik karena dalam waktu yang bersamaan menyelesaikan dua masalah sekaligus, yaitu menangani masalah sampah untuk menyelesaikan kesehatan,” ujarnya.
Gamal mengatakan, semua ini berawal dari sebuah kisah nyata di mana saat itu ia menyaksikan sebuah berita yang membuatnya sangat terharu. Betapa tidak, saat itu ada salah satu media massa yang memberitakan bahwa terdapat seorang anak bernama Khaerunissa yang usianya masih tiga tahun harus menghembuskan nafas terakhir.
Tragisnya, anak tersebut meninggal di atas gerobak ayahnya yang berprofesi sebagai seorang pemulung dengan penghasilan sehari-harinya hanya Rp 10.000. Sejak saat itu, Gamal akhirnya memutuskan untuk berbuat sesuatu kepada masyarakat dalam hal berobat.
Artinya, menurut Gamal, masyarakat harus tetap mendapat pelayanan kesehatan dengan cara apapun. Akhirnya muncul sebuah ide untuk mengumpulkan sampah di mana hasilnya nanti dapat digunakan untuk berobat.
Tapi, hal ini tentu tak bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu, ia pun mengajak warga setempat dan memberikan sosialisasi terkait klinik sampah ini. “Klinik Asuransi Sampah adalah sistem asuransi kesehatan mikro berbasis kerakyatan dengan semangat gotong royong melalui pembayaran premi dengan sampah sebagai sumber pendanaan utama pelayanan kesehatan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, warga cukup menyerahkan sampahnya kepada Klinik Asuransi Sampah senilai Rp 10.000 rupiah setiap bulan dan bisa menikmati berbagai fasilitas kesehatan. Sampah yang dikumpulkan warga diolah menjadi uang sebagai `Dana Sehat` dengan Metode Takakura dan daur ulang.
Dana Sehat tersebut digunakan untuk pelayanan kesehatan secara holistik, yaitu promotif (meningkatkan kesehatan), preventif (mencegah sakit), kuratif (mengobati sakit), dan rehabilitatif (rehabilitasi yang sembuh). Sehingga walaupun tidak sakit, masyarakat tidak akan rugi, karena mendapatkan berbagai program peningkatan kesehatan.
“Dengan sistem ini, kami menghimpun potensi atau sumber daya yang ada di dalam masyarakat itu sendiri lalu mengembalikan sebagai akses pelayanan kesehatan holistik serta mampu dalam pengelolaan pembiayaannya,” jelasnya.
Sumber : detik.com
Sumber foto : detik.com
Di awal tahun, pada 31 Januari 2014, Gamal meraih penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneurship First Winner 2014. Penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Unilever dan Cambridge University ini merupakan kehormatan dan Pangeran Charles kepada entrepreneur muda yang peduli pada sumber daya yang berkelanjutan.
“Alhamdulillah, saya mampu meraih penghargaan tersebut berkat kontribusi besar masyarakat dan juga tim saya selama ini. saat itu, saya mendirikan sebuah klinik yang sistem pembayarannya menggunakan asuransi dengan premi sampah,” katanya seperti dikutip dari Studentpreuneur, Kamis (11/12/2014).
Artinya, setiap masyarakat yang ingin berobat ke klinik namun tak memiliki uang dapat menggantinya dengan mengumpulkan sampah. Sampah yang dibawa ke klinik memiliki nilai Rp 10.000 yang dapat digunakan untuk berobat.
Program penghargaan internasional tersebut digelar untuk menginspirasi pemuda di seluruh dunia agar dapat menyelesaikan isu lingkungan, sosial dan kesehatan. Penghargaan ini juga mengundang wirausaha yang berusia 30 tahun ke bawah untuk memberikan solusi yang menginspirasi, praktis dan jelas untuk membantu mewujudkan sustainability living.”Program saya terpilih menjadi yang terbaik karena dalam waktu yang bersamaan menyelesaikan dua masalah sekaligus, yaitu menangani masalah sampah untuk menyelesaikan kesehatan,” ujarnya.
Gamal mengatakan, semua ini berawal dari sebuah kisah nyata di mana saat itu ia menyaksikan sebuah berita yang membuatnya sangat terharu. Betapa tidak, saat itu ada salah satu media massa yang memberitakan bahwa terdapat seorang anak bernama Khaerunissa yang usianya masih tiga tahun harus menghembuskan nafas terakhir.
Tragisnya, anak tersebut meninggal di atas gerobak ayahnya yang berprofesi sebagai seorang pemulung dengan penghasilan sehari-harinya hanya Rp 10.000. Sejak saat itu, Gamal akhirnya memutuskan untuk berbuat sesuatu kepada masyarakat dalam hal berobat.
Artinya, menurut Gamal, masyarakat harus tetap mendapat pelayanan kesehatan dengan cara apapun. Akhirnya muncul sebuah ide untuk mengumpulkan sampah di mana hasilnya nanti dapat digunakan untuk berobat.
Tapi, hal ini tentu tak bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu, ia pun mengajak warga setempat dan memberikan sosialisasi terkait klinik sampah ini. “Klinik Asuransi Sampah adalah sistem asuransi kesehatan mikro berbasis kerakyatan dengan semangat gotong royong melalui pembayaran premi dengan sampah sebagai sumber pendanaan utama pelayanan kesehatan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, warga cukup menyerahkan sampahnya kepada Klinik Asuransi Sampah senilai Rp 10.000 rupiah setiap bulan dan bisa menikmati berbagai fasilitas kesehatan. Sampah yang dikumpulkan warga diolah menjadi uang sebagai `Dana Sehat` dengan Metode Takakura dan daur ulang.
Dana Sehat tersebut digunakan untuk pelayanan kesehatan secara holistik, yaitu promotif (meningkatkan kesehatan), preventif (mencegah sakit), kuratif (mengobati sakit), dan rehabilitatif (rehabilitasi yang sembuh). Sehingga walaupun tidak sakit, masyarakat tidak akan rugi, karena mendapatkan berbagai program peningkatan kesehatan.
“Dengan sistem ini, kami menghimpun potensi atau sumber daya yang ada di dalam masyarakat itu sendiri lalu mengembalikan sebagai akses pelayanan kesehatan holistik serta mampu dalam pengelolaan pembiayaannya,” jelasnya.
Sumber : detik.com
Sumber foto : detik.com
Bisnis UKM - Inspirasi Usaha
Inspirasi dalam berkarya dapat datang dari mana saja dan sering dalam kondisi yang tidak terduga. Seperti yang dialami Roni Dwi Wijayanto, perajin lampu hias berbahan bambu ini.
Warga Desa Pehkulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini memulai usahanya itu sejak dua tahun silam. Sebuah usaha yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Suami dari wanita bernama Sunarti ini, menuturkan, ide membuat kerajinan bambu itu datang begitu saja saat dia sedang makan di dapur rumah sederhananya di kampung. Saat makan itu ia sembari menunggui nyala api tungku berbahan bakar aneka kayu yang tidak terpakai.
Suatu kali dia memegang potongan bambu untuk dimasukkan tungku. Dia gelisah. Merasa sayang dengan potongan bambu yang akan menjadi abu itu. Dia kemudian berpikir bagaimana memanfaatkan potongan-potongan bambu yang melimpah itu.
"Akhirnya saya mencoba membuat lampu hias," kata Roni, Senin (18/8/2014).
Hasil karyanya itu mendapat perhatian dari lingkungan sekitarnya dan banyak yang memesannya. Dia kemudian membuat lampu hias itu secara massal.
Seiring berjalannya waktu, dia mengembangkan usahanya dengan menambah ragam bentuk dan model. Hasil kerajinannya menjadi cukup populer seiring dengan kerap mengikuti pameran UKM.
"Salah satu pemasarannya ya lewat pameran-pameran," imbuh pria lulusan STM ini.
Hasil kerajinan tangan itu ia lego ke pasaran antara Rp 25.000 hingga Rp 250.000. Saat ini sudah ada 10 macam model lampu hias duduk maupun lampu hias tempel.
"Sebulan, setidaknya saya mengumpulkan uang Rp 5 juta dari usaha ini," imbuh ayah Mita (5) dan Afika (2) ini.
Berkat kerajinan tangannya itu, dia kini dapat mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Sebelumnya dia mengaku tidak mempunyai pekerjaan tetap. Kuli angkut pasir pun pernah dia lakukan.
Saat ini mimpi besarnya adalah mengembangkan usahanya semakin besar. Selain bahan bambu yang cukup banyak, jumlah tenaga kerja di desanya juga melimpah. "Saya berharap nantinya bisa ekspor kerajinan dari bambu ini," ujarnya.
Selain berkutat pada lampu hias, dia juga tengah melebarkan usahanya di bidang pembuatan bangunan kafe maupun rumah makan. Dia tetap berkutat pada bahan bambu untuk bangunan-bangunan itu. Selain itu juga ada kursi bambu.
"Sedangkan kendala saat ini adalah terbatasnya peralatan," pungkasnya.
Sumber & Gambar: Kompas.Com
Warga Desa Pehkulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri ini memulai usahanya itu sejak dua tahun silam. Sebuah usaha yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Suami dari wanita bernama Sunarti ini, menuturkan, ide membuat kerajinan bambu itu datang begitu saja saat dia sedang makan di dapur rumah sederhananya di kampung. Saat makan itu ia sembari menunggui nyala api tungku berbahan bakar aneka kayu yang tidak terpakai.
Suatu kali dia memegang potongan bambu untuk dimasukkan tungku. Dia gelisah. Merasa sayang dengan potongan bambu yang akan menjadi abu itu. Dia kemudian berpikir bagaimana memanfaatkan potongan-potongan bambu yang melimpah itu.
"Akhirnya saya mencoba membuat lampu hias," kata Roni, Senin (18/8/2014).
Hasil karyanya itu mendapat perhatian dari lingkungan sekitarnya dan banyak yang memesannya. Dia kemudian membuat lampu hias itu secara massal.
Seiring berjalannya waktu, dia mengembangkan usahanya dengan menambah ragam bentuk dan model. Hasil kerajinannya menjadi cukup populer seiring dengan kerap mengikuti pameran UKM.
"Salah satu pemasarannya ya lewat pameran-pameran," imbuh pria lulusan STM ini.
Hasil kerajinan tangan itu ia lego ke pasaran antara Rp 25.000 hingga Rp 250.000. Saat ini sudah ada 10 macam model lampu hias duduk maupun lampu hias tempel.
"Sebulan, setidaknya saya mengumpulkan uang Rp 5 juta dari usaha ini," imbuh ayah Mita (5) dan Afika (2) ini.
Berkat kerajinan tangannya itu, dia kini dapat mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Sebelumnya dia mengaku tidak mempunyai pekerjaan tetap. Kuli angkut pasir pun pernah dia lakukan.
Saat ini mimpi besarnya adalah mengembangkan usahanya semakin besar. Selain bahan bambu yang cukup banyak, jumlah tenaga kerja di desanya juga melimpah. "Saya berharap nantinya bisa ekspor kerajinan dari bambu ini," ujarnya.
Selain berkutat pada lampu hias, dia juga tengah melebarkan usahanya di bidang pembuatan bangunan kafe maupun rumah makan. Dia tetap berkutat pada bahan bambu untuk bangunan-bangunan itu. Selain itu juga ada kursi bambu.
"Sedangkan kendala saat ini adalah terbatasnya peralatan," pungkasnya.
Sumber & Gambar: Kompas.Com
Bisnis UKM - Inspirasi Usaha
Produk e-fishery ciptaan Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy merupakan teknologi tepat guna dan menawarkan solusi bagi pembudidaya ikan. Produk ini merupakan alat pemberi pakan otomatis bagi ikan dan biota perikanan lain. Pemberian pakan ini dapat dilakukan secara remote dengan hanya melalui perangkat ponsel atau tablet yang terhubung dengan internet. Inovasi ciptaan Gibran ini bertujuan semata-mata untuk mengembangkan bisnis ikan air tawar di Indonesia.
Terakhir, e-fishery memenangkan kompetisi Get In The Ring dan memenangkan uang Rp 1,2 juta dolar, atau Rp 12 miliar. “e-Fishery adalah sistem cerdas pemberi pakan untuk budidaya ikan dan udang. Alat ini bisa memberi pakan secara otomatis, mendeteksi nafsu makan ikan, serta mencatat dan melaporkan performa pemberian pakannya melalui internet,” katanya.
Alat pemberi pakan ikan otomatis untuk segala jenis ikan dan udang ini tidak hanya mengotomatisasi pemberian pakan secara terjadwal dengan dosis yang tepat. Selain itu, alat ini juga mencatat setiap pemberian pakan secara real-time. Penggunanya dapat mengakses data pemberian pakan kapanpun dan dimanapun mereka berada secara lengkap. Tidak ada lagi masalah over-feeding, pemberian pakan ikan yang tidak teratur atau pakan yang diselewengkan sehingga berdampak pada kerugian.
“Berawal dari memulai bisnis sebagai petani ikan lele, saya pun menyadari adanya permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya ikan, khususnya dalam pemberian pakan ikan. Dari hal inilah saya membaca sebuah peluang untuk sektor inovasi sistem pendukung di bisnisnya,” ujarnya.
Tantangannya dalam pengembangan bisnis ini ada di proses riset, manufaktur, dan pengenalan teknologi baru ke masyarakat. Seiring berjalannya waktu, e-Fishery pun banyak melakukan penyempurnaan demi menjaga kualitas produk. Dengan mengusung konsep user friendly, pengaturan untuk e-Fishery sangat mudah dan bisa digunakan oleh siapapun. e-Fishery juga dapat memberikan pakan dengan jumlah yang tepat sesuai dengan kebutuhan ikan, dengan penjadwalan yang mudah dan teratur.
Bahkan, e-Fishery memiliki fitur real-time monitoring yang dapat memberikan laporan pemberian pakan secara langsung yang dapat diakses kapanpun dan di manapun melalui perangkat Anda. Oleh karena itu, inovasi harus terus dilakukan setiap saat. “Sejauh ini sudah ada empat perusahaan yang menggunakan dan terjual di atas 150 unit,” jelasnya.
Ia mengatakan, setiap produk memiliki fitur yang berbeda-beda. Seperti ukurannya saja sudah berbeda-beda. Kemudian ada yang level basic, ada juga software yang berbeda, dan sebagainya. Sedangkan harga jualnya di antara Rp 7-9 juta. “Perkembangannya bagus, trennya positif. Dari segi permintaan pasar juga terus naik, dan teknologinya semakin berkembang. Tapi seperti kata Bu Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan RI bahwa Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai pihak asing yang mencari ikan di Indonesia justru mendapatkan lebih banyak keuntungan daripada orang Indonesia sendiri,” tambahnya.
Kekuatan dari setiap aktivitas kita ada di visi dan niat. Kebanyakan pengusaha muda memutuskan untuk berhenti saat menghadapi kegagalan karena visi dan niatnya yang kurang kuat. Saat visi kita cukup besar dan niat kita jernih, semua tantangan justru akan menjadi energi,” ujarnya.
Sumber: detik.com
Terakhir, e-fishery memenangkan kompetisi Get In The Ring dan memenangkan uang Rp 1,2 juta dolar, atau Rp 12 miliar. “e-Fishery adalah sistem cerdas pemberi pakan untuk budidaya ikan dan udang. Alat ini bisa memberi pakan secara otomatis, mendeteksi nafsu makan ikan, serta mencatat dan melaporkan performa pemberian pakannya melalui internet,” katanya.
Alat pemberi pakan ikan otomatis untuk segala jenis ikan dan udang ini tidak hanya mengotomatisasi pemberian pakan secara terjadwal dengan dosis yang tepat. Selain itu, alat ini juga mencatat setiap pemberian pakan secara real-time. Penggunanya dapat mengakses data pemberian pakan kapanpun dan dimanapun mereka berada secara lengkap. Tidak ada lagi masalah over-feeding, pemberian pakan ikan yang tidak teratur atau pakan yang diselewengkan sehingga berdampak pada kerugian.
“Berawal dari memulai bisnis sebagai petani ikan lele, saya pun menyadari adanya permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya ikan, khususnya dalam pemberian pakan ikan. Dari hal inilah saya membaca sebuah peluang untuk sektor inovasi sistem pendukung di bisnisnya,” ujarnya.
Tantangannya dalam pengembangan bisnis ini ada di proses riset, manufaktur, dan pengenalan teknologi baru ke masyarakat. Seiring berjalannya waktu, e-Fishery pun banyak melakukan penyempurnaan demi menjaga kualitas produk. Dengan mengusung konsep user friendly, pengaturan untuk e-Fishery sangat mudah dan bisa digunakan oleh siapapun. e-Fishery juga dapat memberikan pakan dengan jumlah yang tepat sesuai dengan kebutuhan ikan, dengan penjadwalan yang mudah dan teratur.
Bahkan, e-Fishery memiliki fitur real-time monitoring yang dapat memberikan laporan pemberian pakan secara langsung yang dapat diakses kapanpun dan di manapun melalui perangkat Anda. Oleh karena itu, inovasi harus terus dilakukan setiap saat. “Sejauh ini sudah ada empat perusahaan yang menggunakan dan terjual di atas 150 unit,” jelasnya.
Ia mengatakan, setiap produk memiliki fitur yang berbeda-beda. Seperti ukurannya saja sudah berbeda-beda. Kemudian ada yang level basic, ada juga software yang berbeda, dan sebagainya. Sedangkan harga jualnya di antara Rp 7-9 juta. “Perkembangannya bagus, trennya positif. Dari segi permintaan pasar juga terus naik, dan teknologinya semakin berkembang. Tapi seperti kata Bu Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan RI bahwa Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai pihak asing yang mencari ikan di Indonesia justru mendapatkan lebih banyak keuntungan daripada orang Indonesia sendiri,” tambahnya.
Kekuatan dari setiap aktivitas kita ada di visi dan niat. Kebanyakan pengusaha muda memutuskan untuk berhenti saat menghadapi kegagalan karena visi dan niatnya yang kurang kuat. Saat visi kita cukup besar dan niat kita jernih, semua tantangan justru akan menjadi energi,” ujarnya.
Sumber: detik.com
Berita UKM - Bisnis UKM - Inspirasi Usaha
Kalau kita membaca kata Olympic pasti yang terbayang di pikiran kita adalah sebuah pesta olahraga terbesar di dunia, atau dalam bahasa Indonesia disebut Olimpiade. Tapi selain konotasi yang langsung berhubungan dengan olahraga, ternyata dalam dunia bisnis, kata tersebut juga telah tercipta sebuah konotasi yang berhubungan dengan produk inovatif yang sangat melekat di benak masyarakat Indonesia, yaitu produk furnitur lokal bermerek Olympic.
Brand Olympic adalah pionir produk bongkar pasang atau biasa disebut knock down. Olympic mulai dikenal luas pada era 1980-an dan sukses merajai pasar lokal furnitur kelas knock down hingga 3 dekade, bahkan kini selain mampu menguasai pasar lokal juga sukses menancapkan kakinya di mancanegara dengan penetrasinya merajai pasar di timur tengah. Dengan kekuatan 3.000 lebih toko yang menjual produknya di seluruh Indonesia, 23 pabrik di 23 provinsi, kantor cabang di Dubai dan China menunjukkan betapa kuatnya eksistensi dan rapinya jaringan pemasaran produk yang berkantor pusat di Kedung Halang Bogor ini.
Siapa tokoh dibalik sukses Olympic, raja furnitur knock down tersebut? Dia adalah Au Bintoro. Pria kelahiran Tembilahan, Riau pada tanggal 1 Agustus 1952. Kisah suksesnya berawal saat ia masih berprofesi utama sebagai pembuat box speaker. Ia mengamati bahwa banyak hal yang tidak efisien ia temukan dalam bisnis furnitur, mulai dari beratnya bahan baku kayu, banyaknya tenaga yang dibutuhkan untuk mengangkut, banyaknya ruang yang terbuang saat distribusi, misalnya satu truk hanya bisa mengangkut beberapa meja saja karena posisinya memakan tempat, yang akhirnya membebani konsumen dengan biaya angkut yang kadang lebih mahal dari harga barang pesanannya.
Dari pengamatannya tersebut, Au melihat adanya peluang usaha yang besar bila mampu merubah kondisi tersebut menjadi lebih efisien. Ia berpikir alangkah baiknya bila ada produk furnitur yang lebih praktis, ringan, dan bisa diangkut dalam jumlah yang lebih banyak dalam satu truk. Yang pertama terpikirkan adalah merubah layout dalam sistem distribusi. Kemudian mulailah ia bereksperimen, pertama yang ia buat adalah meja yang bisa dibongkar pasang menggunakan sekrup sebagai pengikat bagian-bagian mejanya. Dengan idenya ini, ia juga berharap ongkos pengangkutan jadi lebih murah dan mudah. Permasalahan timbul karena sekrup sebagai pengikat bagian-bagian meja tidak cukup kuat untuk menahan bobot kayu yang berat. Dari situ ia kemudian mencoba membuat meja dari bahan baku box speaker miliknya untuk mengatasi masalah beratnya bobot meja yang berbahan kayu.
Percobaannya berhasil, Ia sukses menciptakan meja yang lebih kecil, ringan dan mudah dibongkar pasangkan dengan sekrup sebagai pengikatnya. Produk ini selain mudah dibawa, lebih murah dan tak membutuhkan banyak tenaga untuk mengangkutnya, juga memberikan keuntungan bagi penjual yaitu biaya gudang jadi lebih murah, karena penjual hanya perlu merakit satu produk saja sebagai display, sementara produk yang digudang dibiarkan dalam keadaan terbongkar sehingga tidak memakan banyak ruang, bahkan si penjual bisa menyimpan stok barang lebih banyak.
Pada tahun 1983, Au benar-benar menekuni bidang furniture dan meninggalkan profesinya sebagai pembuat box speaker setelah mencoba menjual meja hasil kreasinya ke toko furnitur dan ternyata laku keras. Tahun 1986, Au Bintoro meresmikan PT. Cahaya Sakti Multi Intraco yang khusus memproduksi meja. Kenapa produknya dinamai “Olympic”? Saat itu tahun 1984 memang tengah berlangsung pesta Olimpiade di Los Angeles, Amerika Serikat, Au berharap label produksinya bisa sehebat Olimpiade yang gaungnya terdengar diseluruh dunia.
Terbukti, kini perusahaannya telah berkembang pesat, sukses merambah ke berbagai negara dan mampu menjual beragam jenis furnitur sampai 100 ribu unit per bulan. Furnitur tersebut diproduksi di sebuah pabrik yang berlokasi di jalan Kaum Sari, Kedung Halang, Bogor. Menempati areal seluas 14 hektare, Au Bintoro mempekerjakan sekitar 1.200 karyawan dengan kapasitas produksi 2.000 pak produk per hari, mulai dari meja belajar, furnitur untuk dapur, kamar tidur, ruang keluarga dan masih banyak lainnya. Pabrik ini mengerjakan furnitur untuk lima merek, yakni Olympic, Albatros, Solid, Jaliteng dan Procella furnitur yang ditujukan untuk target pasar berbeda. Sebut saja Olympic yang lebih mengarah pada kalangan menengah ke bawah, sedangkan Silent dan Albatros menyasar segmen menengah ke atas dan furniture berharga murah dengan merek Jaliteng.
Bila kita ingin sukses menjadi pengusaha, carilah ide bisnis dengan mengamati kejadian sehari-hari, temukan masalah dan coba perbaiki masalah dan tawarkan solusi yang benar-benar efektif mampu menyelesaikan masalah. Kisah sukses pak Au Bintoro adalah salah satu contoh yang dapat kita jadikan bahan pembelajaran. Selamat Berwirausaha Sukses!
Sumber : wartawirausaha.com
Sumber foto : wartawirausaha.com
Brand Olympic adalah pionir produk bongkar pasang atau biasa disebut knock down. Olympic mulai dikenal luas pada era 1980-an dan sukses merajai pasar lokal furnitur kelas knock down hingga 3 dekade, bahkan kini selain mampu menguasai pasar lokal juga sukses menancapkan kakinya di mancanegara dengan penetrasinya merajai pasar di timur tengah. Dengan kekuatan 3.000 lebih toko yang menjual produknya di seluruh Indonesia, 23 pabrik di 23 provinsi, kantor cabang di Dubai dan China menunjukkan betapa kuatnya eksistensi dan rapinya jaringan pemasaran produk yang berkantor pusat di Kedung Halang Bogor ini.
Siapa tokoh dibalik sukses Olympic, raja furnitur knock down tersebut? Dia adalah Au Bintoro. Pria kelahiran Tembilahan, Riau pada tanggal 1 Agustus 1952. Kisah suksesnya berawal saat ia masih berprofesi utama sebagai pembuat box speaker. Ia mengamati bahwa banyak hal yang tidak efisien ia temukan dalam bisnis furnitur, mulai dari beratnya bahan baku kayu, banyaknya tenaga yang dibutuhkan untuk mengangkut, banyaknya ruang yang terbuang saat distribusi, misalnya satu truk hanya bisa mengangkut beberapa meja saja karena posisinya memakan tempat, yang akhirnya membebani konsumen dengan biaya angkut yang kadang lebih mahal dari harga barang pesanannya.
Dari pengamatannya tersebut, Au melihat adanya peluang usaha yang besar bila mampu merubah kondisi tersebut menjadi lebih efisien. Ia berpikir alangkah baiknya bila ada produk furnitur yang lebih praktis, ringan, dan bisa diangkut dalam jumlah yang lebih banyak dalam satu truk. Yang pertama terpikirkan adalah merubah layout dalam sistem distribusi. Kemudian mulailah ia bereksperimen, pertama yang ia buat adalah meja yang bisa dibongkar pasang menggunakan sekrup sebagai pengikat bagian-bagian mejanya. Dengan idenya ini, ia juga berharap ongkos pengangkutan jadi lebih murah dan mudah. Permasalahan timbul karena sekrup sebagai pengikat bagian-bagian meja tidak cukup kuat untuk menahan bobot kayu yang berat. Dari situ ia kemudian mencoba membuat meja dari bahan baku box speaker miliknya untuk mengatasi masalah beratnya bobot meja yang berbahan kayu.
Percobaannya berhasil, Ia sukses menciptakan meja yang lebih kecil, ringan dan mudah dibongkar pasangkan dengan sekrup sebagai pengikatnya. Produk ini selain mudah dibawa, lebih murah dan tak membutuhkan banyak tenaga untuk mengangkutnya, juga memberikan keuntungan bagi penjual yaitu biaya gudang jadi lebih murah, karena penjual hanya perlu merakit satu produk saja sebagai display, sementara produk yang digudang dibiarkan dalam keadaan terbongkar sehingga tidak memakan banyak ruang, bahkan si penjual bisa menyimpan stok barang lebih banyak.
Pada tahun 1983, Au benar-benar menekuni bidang furniture dan meninggalkan profesinya sebagai pembuat box speaker setelah mencoba menjual meja hasil kreasinya ke toko furnitur dan ternyata laku keras. Tahun 1986, Au Bintoro meresmikan PT. Cahaya Sakti Multi Intraco yang khusus memproduksi meja. Kenapa produknya dinamai “Olympic”? Saat itu tahun 1984 memang tengah berlangsung pesta Olimpiade di Los Angeles, Amerika Serikat, Au berharap label produksinya bisa sehebat Olimpiade yang gaungnya terdengar diseluruh dunia.
Terbukti, kini perusahaannya telah berkembang pesat, sukses merambah ke berbagai negara dan mampu menjual beragam jenis furnitur sampai 100 ribu unit per bulan. Furnitur tersebut diproduksi di sebuah pabrik yang berlokasi di jalan Kaum Sari, Kedung Halang, Bogor. Menempati areal seluas 14 hektare, Au Bintoro mempekerjakan sekitar 1.200 karyawan dengan kapasitas produksi 2.000 pak produk per hari, mulai dari meja belajar, furnitur untuk dapur, kamar tidur, ruang keluarga dan masih banyak lainnya. Pabrik ini mengerjakan furnitur untuk lima merek, yakni Olympic, Albatros, Solid, Jaliteng dan Procella furnitur yang ditujukan untuk target pasar berbeda. Sebut saja Olympic yang lebih mengarah pada kalangan menengah ke bawah, sedangkan Silent dan Albatros menyasar segmen menengah ke atas dan furniture berharga murah dengan merek Jaliteng.
Bila kita ingin sukses menjadi pengusaha, carilah ide bisnis dengan mengamati kejadian sehari-hari, temukan masalah dan coba perbaiki masalah dan tawarkan solusi yang benar-benar efektif mampu menyelesaikan masalah. Kisah sukses pak Au Bintoro adalah salah satu contoh yang dapat kita jadikan bahan pembelajaran. Selamat Berwirausaha Sukses!
Sumber : wartawirausaha.com
Sumber foto : wartawirausaha.com
Berita UKM - Inspirasi Usaha
Langganan:
Komentar (Atom)









